Senin-Jumat : 09.00 - 18.00 , Sabtu : 09.00 - 15.00 wib
Hi..Selamat Datang di Galeri Musik Indonesia.com, kamu bisa masuk atau daftar disini.
  • BELANJA AMAN

    Toko Resmi,Barang Original dan Garansi.

  • PELAYANAN CEPAT

    6 jam terkirim*

  • HUBUNGI KAMI

    021-6501012 / 65306112

  • ALAMAT

    Jl. Sunter Kirana Raya Blok NB II No.9

Keranjang Belanja
0 item(s) - Rp.0,00
Keranjang Belanja Anda kosong!

Radix: Gitar Tangerang Gapai Eropa

Radix: Gitar Tangerang Gapai Eropa

Anda penggemar gitar? Pernahkah anda mendengar atau mengetahui merek Radix? Gitar lokal produksi Tangerang, Banten ini ternyata sudah menembus pasar Eropa. Tiap bulan produk Radix dikirim ke sebuah distributor gitar di Belanda. Di balik kesuksesan Radix, ada sebuah cerita panjang.

“Awalnya saya ingin beli gitar. Tapi untuk gitar kualitas bagus harganya mahal dan budgetnya tidak mencukupi. Lantas saya berpikir, kalau orang lain bisa membuat gitar, mengapa saya tidak? Saya ini memang orangnya suka ngoprek,” kata Toein Bernadhie Radix, sang pemilik.

Toein kemudian membeli berbagai bahan dan alat untuk membuat gitar. Ternyata membuat gitar tidak semudah yang dibayangkannya. Sempat beberapa kali mencoba dan gagal, akhirnya dia berhasil membuat gitar sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Tapi, uang yang dia keluarkan justru berlipat dari harga gitar yang diinginkan.

“Waktu itu gitar yang saya inginkan itu harganya sekitar Rp 8 juta. Itu untuk kualitas yang bagus. Nah, dari coba-coba bikin sendiri itu justru habis sekitar Rp 20 juta. Tapi puas dan saya jadi bisa membuat gitar,” kenangnya.

Dari coba-coba tersebut kemudian Toein berpikir ingin dan harus membuat gitar untuk dikormesialkan. Sebab, uang yang dia keluarkan untuk eksperimen cukup besar. Pada 2003, ia memulai usaha produksi gitar. Toein berkenalan dengan Ridho dan berkolaborasi untuk mengembangkan gitar dengan merek Marlique.

Perlahan tapi pasti usaha Toein yang berkolaborasi dengan Ridho berkembang dan bisa memproduksi hingga 200 gitar elektrik per bulannya. Namun, pada 2008 terdapat perbedaan visi antara Toein dan Ridho yang akhirnya membuat kongsi mereka bubar dan merek Marlique tidak dilanjutkan. Terlanjur cinta dengan usaha produksi gitar, Toein kemudian membuat brand sendiri, yakni Radix, yang diambil dari nama belakangnya.

“Waktu itu berat juga, karena harus memulai dengan brand baru. Meski jaringan bisnis ada, tapi tetap harus memulai dari awal, termasuk pembayaran dari distributor yang mundur,” kata Toein.

Meskipun terasa berat harus mulai membangun brand dari awal,  Toein tak patah arang. “Saat itu saya berpikir, untuk brand baru ini saya harus meningkatkan kualitasnya. Tapi harga tidak boleh naik,” katanya.

Meskipun margin keuntungannya menurun, tapi cara ini berhasil. Brand Radix mulai menanjak di pasaran Indonesia. Melalui promosi via website, pasar Radix semakin melebar. Beberapa butik musik di Eropa mulai menjadi pelanggan Radix hingga akhirnya ia bekerja sama dengan distributor dari Belanda.

“Sebelumnya sudah ada beberapa pembeli dari Finlandia, Swedia dan beberapa negara Asia. Tapi mereka pesanannya tidak rutin tiap bulan kita tidak bisa mengontrol harga. Pada 2012 lalu kita kerjasama dengan distributor dari Belanda dan saya bisa ikut mengontrol harga. Saya tidak mau harga gitar Radix terlalu mahal,” katanya.

Nama Radix sekarang memang sudah dikenal di Indonesia maupun di mancanegara. Salah satu cara Toein untuk mempromosikan Radix adalah dengan cara bekerja sama dengan para gitaris. Beberapa nama beken pun menjadi pengguna Radix seperti Bluey Incognito, Buluk Superglad, Eet Sjahranie Edane, Edwin Cokelat, Farri Ikhsan the SIGIT, Iwan St Locco, Rama Nidji dan Sony JRocks.

Cara tersebut ternyata sangat efektif untuk meningkatkan pamor Radix. Toein sendiri mengaku hanya sekali memasang iklan di media cetak. Selebihnya menggunakan cara kerja sama untuk branding produknya dan ternyata sukses.

Saat ini produksi Radix sekitar 120 gitar per bulan dan 50% dipasarkan di Eropa. Omzetnya menacapai Rp 250 juta per bulan, tapi itu tak membuat Toein berpuas diri. Ia berencana mengembangkan produknya, yaitu gitar akustik dan ia sudah survei untuk bekerja sama dengan perajin kecil di daerah Solo.

“Rencananya tahun ini mulai produksi gitar akustik. Bekerja sama dengan perajin di Solo. Segmennya kelas menengah ke atas agar tidak mematikan perajin kecil di sana. Kalau menengah ke bawah itu rezeki mereka,” tutup Toein.

Sumber : finance.detik.com (18/2/2014)


0 Comments To "Radix: Gitar Tangerang Gapai Eropa"

Write a comment

Your Name:


Your Comment:Note: HTML is not translated!

Enter the code in the box below: